Jangan pernah merasa tinggi, sebab yang begitu tinggi saja tak melangit, lalu kita apa? kita hanya seonggok daging yang bila saatnya nanti akan menjadi tanah jua

Sunday, 4 December 2016

Definisi Produk Sampingan dan Produk Gabungan serta Metode Untuk Menghitung Biaya Produk Sampingan

Definisi produk sampingan dan produk gabungan

Istilah Produk Sampingan (by product) umumnya digunakan untuk mendefinisikan suatu produk dengan nilai total yang relatif kecil dan dihasilkan secara simultan atau bersamaan dengan produk lain yang nilainya lebih besar. Produk dengan nilai total yang lebih besar tersebut biasanya disebut Produk Utama (main product). Produk utama biasanya diproduksi dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan produk sampingan. Biasanya, produsen hanya memiliki sedikit kendali atas jumlah produk sampingan yang dihasilkan. Sebaliknya, diperkenalkannya metode teknik yang lebih maju seperti yang digunakan di industri perminyakan, telah memungkinkan pengendalian yang lebih besar atas jumlah residu dan produk sampingan lainnya. Misalnya saja, suatu perusahaan yang menyewa truk untuk mengangkut bahan tertentu menemukan bahwa bahan buangan tersebut dapat digunakan sebagai pupuk. Produk sampingan ini sekarang menjadi sumber pendapatan lain untuk industri.
Produk Gabungan (joint product) dihasilkan secara simultan melalui suatu proses atau serentetan proses umum, dimana setiap produk yang dihasilkan dari proses tersebut memiliki lebih dari sekedar nilai nominal. Proses produksi tersebut bersifat simultan karena proses itu menghasilkan seluruh produk tersebut tanpa kecuali. Peningkatan dalam output salah satu produk pasti akan menyebabkan peningkatan kuantitas dari produk atau produk-produk lain, dan demikian pula sebaliknya, walaupun tidak harus dalam proporsi yang sama. Titik pisah batas (split-off point) didefinisikan sebagai titik dimana produk-produk tersebut dapat dipisahkan sebagai unit-unit individual. Sebelum titik tersebut, produk-produk tadi masih dalam satu kesatuan yang homogen.

Metode untuk menghitung biaya produk sampingan

Metode yang dapat diterima untuk menghitung biaya produk sampingan terbagi atas dua kategori. Dalam kategori Pertama, biaya produksi gabungan tidak dialokasikan ke produk sampingan. Dlam kategori ini, ada dua metode. Pendapatan yang dihasilkan dari penjualan produk sampingan dikreditkan ke pendapatan atau biaya produk utama. Metode ini dibedakan oleh perlakuannya atas pendapatan kotor dari produk sampingan dan disebut sebagai metode 1. Alternatifnya, biaya produk sampingan setelah titik pisah batas di-offset dengan pendapatan bersih dari produk sampingan dan disebut sebagai metode 2.
Dalam metode 1, pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan ditampilkan dalam laporan laba rugi sebagai salah satu dari kategori ini:
a.       Pendapatan lain-lain
b.      Tambahan pendapatan penjualan
c.       Pengurangan harga pokok penjualan dari produk utama
d.      Pengurangan biaya produksi utama
Dalam metode 2, pendapatan bersih dari produk sampingan,(pendapatan dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan biaya administratif dan pemasaran untuk memasarkan produk sampingan, kemudian dikurangi lagi dengan biaya pemprosessan lebih lanjut setelah titik pisah batas) ditampilkan dilaporan laba rugi sebagai salah satu keempat kategori untuk metode 1 seperti yang disebutkan diatas.

Dalam kategori yang kedua untuk menghitung biaya produk sampingan, sebagian biaya gabungan dialoksikan ke produk tersebut. Alokasi biaya gabungan seperti ini hampir sama dengan perlakuan terhadap produk gabungan. Nilai persediaan didasarkan pada besarnya biaya gabungan yang digunakan. Metode 3 merupakan metode biaya penggantian, sedangkan metode 4 adalah metode nilai pasar atau yang juga dikenal sebagai metode pembatalan atau pembalikan biaya (reversal cost method).


   Metode 1 : Pengakuan Pendapatan Kotor

Dengan metode pendapatan kotor, biaya persediaan final dari produk utama dihitung terlalu tinggi (overstated) karena menanggung biaya yang seharusnya dibebankan ke produk sampingan. Keterbatasan ini dikoreksi di  metode 1d, tetapi hanya sebagian, karena yang dikurangi dari biaya produksi produk utama dalam metode ini adalah nilai jual produk sampingan dan bukannya biaya produksinya.

Metode 1a : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Pendapatan Lain-lain. Metode ini diilustrasikan dalam laporan laba rugi dibawah ini. Dengan asumsi bahwa pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan adalah sebesar $ 1.500:
Penjualan (produk utama, 10.000 unit @$2)

$ 20.000
Harga pokok penjualan:


Persediaan awal (1.000 unit @ $ 1,50)
$ 1.500

Total biaya produksi(11.000 unit @$ 1,50)
$ 16.500

Tersedia untuk dijual
$ 18.000

Persediaan akhir (2.000 unit @ $ 1,50)
$ 3.000
$ 15.000
Laba kotor

$ 5.000
Beban pemasaran dan administrasi

$ 2.000
Laba operasi

$ 3.000
Pendapatan lain-lain: pendapatan penjualan produk sampingan

$ 1.500
Laba sebelum pajak

$ 4.500

Metode 1b : Pendapatan Produk Sampingan sebagai Tambahan Pendapatan Penjualan. Untuk metode ini, laporan laba rugi diatas akan menampilkan $ 1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan sebagai bahan penjualan atas produk utama. Akibatnya, total pendapatan penjualan berubah menjadi sebesar $15.000 harga pokok penjualan produk utama, sehingga laba kotor dan laba operasi akan meningkat sebesar $ 1.500 dibandingkan dengan yang ditampilkan dilaporan laba rugi diatas. Laba sebelum pajak akan tetap sebesar $4.500.

Metode 1c : pendapatan Produk Sampingan sebagai Pengurang Harga Pokok Penjualan. Dalam metode ini, $1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan dari $15.000 harga pokok penjualan produk utama, sehingga laba kotor dan laba operasi akan meningkat sebesar $1.500 dibanding dengan yang ditampilkan di laporan laba rugi diatas. Laba sebelum pajak akan tetap sebesar $ 4.500.

Metode 1d : Pendapatan Produk Sampingan Mengurangi Biaya Produksi. Dalam metode ini, $ 1.500 dari pendapatan penjualan produk sampingan dikurangkan dari $16.500 total biaya produksi, sehingga biaya produksi bersih yang ditampilkan dalam laporan laba rugi berikut ini $ 1.500. Biaya produksi yang sudah direvisi ini mengakibatkan rata-rata biaya over unit produk utama menjadi sebesar $ 1,3625. Biaya yang dibebankan ke persediaan akhir produk utama menjadi sebesar $2.725 dan bukannya $3.000. Dengan cara yang hampir sama, biaya persediaan awal yang berkurang ($1,35 per unit seperti yang diilustrasikan dilaporan laba rugi berikut ini), disebabkan karena pendapatan dari penjualan produk sampingan diperiode sebelumnya dikreditkan ke biaya produksi produk utama diperiode yang sama. Dan ketiga metode sebelumnya, tidak ada satupun yang mempengaruhi biaya perunit yang dilaporkan untuk produk utama. Hal ini adalah perbedaan penting dalam perhitungan biaya produk, meskipun pada umumnya  dampak dari metode ini dalam nilai dolar adalah relatif kecil. Laporan laba rugi akan ditampilkan sebagai berikut:
Penjualan (produk utama 10.000 unit @$ 2)

$ 20.000
Harga pokok penjualan:


Persediaan awal(1.000 unit @$1,35)

$ 1.350
Total biaya produksi(11.000 unit @$1,50)
$ 16.500

Pendapatan dari penjualan produk sampingan
$ 1.500

Biaya produksi bersih

$ 15.000
Tersedia untuk dijual (12.000 unit @ $1,3625 biaya rata-rata)

$ 16.350
Persediaan akhir(12.000 unit @$1,3625)
$ 2.725
$ 13.625
Laba kotor

$ 6.375
Beban pemasaran dan administrasi

$ 2.000
Laba operasi

$ 4.375

Untuk metode yang terakhir dijelaskan ini, tidak diperlukan ayat jurnal yang rumit. Pendapatan yang diterima dari penjualan produk sampingan didebit ke kas atau piutang usaha. Dalam ketiga metode sebelumnya, Pendapatan dari Penjualan Produk Sampingan yang dikreditkan; sedangkan dalam metode yang keempat, biaya produksi dari produk utama. Hal ini biasanya dilakukan dengan mengkreditkan barang dalam proses.

  Metode 2 : Pengakuan Pendapatan Bersih

Dalam metode ini menyadari adanya kebutuhan untuk membebankan biaya yang dapat ditelusuri ke produk sampingan. Akan tetapi, metode ini tidak berusaha untuk mengalokasikan biaya produksi gabungan ke produksi gabungan ke produk sampingan. Biaya yang terjadi setelah titik pisah batas guna memproses maupun memasarkan produk sampingan dicatat dalam akun yang terpisah dari produk utama. Angka produk sampingan ditampilkan dilaporan laba rugi dengan menggunakan salah satu tampilan yang dijelaskan dalam metode 1
Ayat jurnal dalam metode 2 melibatkan pembebanan biaya yang terjadi setelah titik pisah batas ke pendapatan produk sampingan. Beban pemasaran dan administratif juga dialokasikan ke produk sampinngan. Beberapa perusahaan memiliki satu akun yang berjudul Produk Sampingan. Semua biaya terjadi setelah titik pisah batas didebit ke akun ini, sementara pendapatan yang diperoleh dikreditkan ke akun tersebut. Saldo dari akun ini ditampilkan dilaporan laba rugi, dengan mengikuti salah satu cara yang dijelaskan dalam metode 1. Akumulasi biaya produksi yang dapat dibebankan ke persediaan produk sampingan yang belum terjual dilaporkan dineraca.

   Metode 3 : Metode Biaya Penggantian

Dalam metode ini biasanya digunakan oleh perusahaan itu sendiri. Adanya produk sampingan menghilangkan kebutuhan untuk membeli bahan baku yang serupa dari pemasok. Biaya produksi dari produk utama dikreditkan, dan debitnya diposting ke departemen yang menggunakan produk sampingan tersebut. Jumlah yang diposting oleh ayat jurnal tersebut merupakan biaya pembelian atau biaya penggantiannya.
Perhitungan biaya produk sampingan yang digunakan dalam perusahaan. Misalnya, suatu harga transfer bisa diterapkan berdasarkan biaya untuk berdasarkan harga arbitrer mungkin saja digunakan. Apa pun harga yang dipakai, biaya produksi produk utama yang menghasilkan produk sampingan dikredit, dan debitny diposting ke departemen yang menggunakan produk sampingan tersebut.

 Metode 4 : Metode Harga Pasar (Pembatalan Biaya – Reversal Cost)

Metode harga pasar, atau metode pembatalan biaya pada dasarnya hampir serupa dengan teknik yang diilustrasikan metode 1d. Tetapi, metode tersebut mengurangi biaya produksi dari produk utama, bukan dengan pendapatan aktual yang diterima, melainkan dengan estimasi nilai produk sampingan pada saat dijual. Akun produk sampinngan dibebankan dengann nilai estimasi ini, dan biaya estimasi dari produk utama di kredit. Tambahan biaya bahan baku, tenaga kerja, atau overhead pabrik yang terjadi setelah titik pisah batas dibebankan ke produk sampingan. Saldo dari akun ini dapat ditampilkan di laporan laba rugi dengan salah satu cara yang telah dijelaskan di metode 1. Biaya produksi yang dapat dibebankan ke persediaan produk sampingan yang belum terjual dilaporkan di neraca.
Metode harga pasar (pembatalan biaya) dalam menghitung biaya produk utama dan produk sampingan dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Item sampingan
Produk utama

Produk
Bahan baku
$ 50.000


Tenaga kerja
$ 70.000


Overhead pabrik
$ 40.000


Total biaya produksi (40.000 unit)
$ 160.000


Harga pasar (5.000 unit @$1,80)


$ 9.000
Estimasi laba kotor terdiri atas:



Asumsi laba operasi (20% dari harga jual)

$ 1.800

Beban pemasaran dan administrasi (5% dari harga jual)

$ 450
$ 2.250


$ 6.750

Estimasi biaya produksi setelah titik pisah batas



Bahan baku

$ 1.000

Tenaga kerja

$ 1.200

Overhead pabrik

$ 300
$ 2.500
Estimasi nilai produk nilai sampingan dititik pisah batas yang akan dikreditkan ke produk utama
$ 4.250

$ 4.250
Biaya bersih dari produk utama
$ 155.000


Ditambah biaya produksi aktual setelah titik pisah batas


$ 2.300
Total


$ 6.550
Total jumlah unit
$ 40.000

$ 5.000
Biaya per unit
$3.894

$1,31
Ilustrasi ini menunjukkan bahwa nilai estimasi dari produk sampingan pada titik pisah batas, dihitung dengan cara mengestimasikan laba kotor dan biaya produksi setelah titik pisah batas, dari produk sampingan, lalu mengurangkannya dari harga pokok pasar finalnya. Alternatif lain, jika produk sampingan memiliki nilai pasar pada titik pisah batas, maka akun produk sampinga dibebankan dengan nilai pasar tersebut dikurangi dengan estimasi laba kotor. Lawannya dikreditkan ke biaya produksi produk utama.
Metode 4 didasarkan pada ide bahwa biaya produk sampingan berkaitan dengan nilai jualnya. Mungkin juga untuk menggunakan gabungan total dasar pasar dari produk utama dan produk sampingan pada titik pisah batas sebagai dasar untuk mengalokasikan bagian biaya ke produk sampingan. Lawannya dikredit ke biaya produksi dari produk utama. Dalam pendekatan ini, perlakuan terhadap produk sampingan serupa dengan produk gabungan, sebagaimana dijelaskan baik dalam kasus apapun, biaya produk sampingan yang terjadi setelah titik pisah batas dibebankan ke produk sampingan.
Share:

Advertisement

Recent Post

Recent Posts Widget

Blogroll

Flag Counter
Powered by Blogger.