Dewasa ini, bisnis kue kekinian artis tanah air yang
ditujukan untuk oleh – oleh khas daerah kian menjamur dan semakin menjadi –
jadi. Bisnis yang awalnya dijalankan oleh satu-dua orang artis saja, sekarang
telah berkembang, bahkan seperti dilansir oleh brilio.net kini gerai kue kekinian
khas daerah itu telah mencapai 10-an gerai yang tersebar di berbagai kota besar
di nusantara.
Lebih
hebatnya lagi, bisnis tersebut sekarang telah bernaung pada satu manajerial,
“Jannah Coorporate.” Di prakarsai oleh Irwansyah beserta sang istri Zaskia
Sungkar, mereka kini menjalankan bisnisnya dengan lebih teratur karena semua
merek yang mereka bawahi mempu berjalan serempak dengan sebuah kontrol yang
baik.
Bisnis ini
sangat mengandalkan kepopuleran para artis yang membawahi sebuah merek yang
dipegangnya, sebut saja Laudya Chintya Bella dengan “Bandung Makuta,” serta
Indra Bekti dengan “Cirebon Sultana.” Untuk mendongkrak dagangan miliknya,
mereka gancar melakukan promosi di sosial media, bahkan lebih ekstrim lagi,
para artis ini menawarkan foto bersama bagi para pengunjung yang datang ke
gerai dagangannya, tentu saja dengan catatan para artis tersebut tengah berada
disana.
Untuk
urusan produk, bukan main – main, mereka menjajakan kue khas Austria yang
menjadi pilihan menu dan dirasa pas untuk lidah nusantara, hanya saja perlu
inovasi yang lebih lagi bagi Jannah Corp, karena hampir di setiap merek dagang
miliknya, menyuguhkan kue yang hampir serupa, hanya mungkin toppingnya saja
yang diubah – ubah.
Dalam rasa,
Jannah Corp rasanya perlu berpuas diri karena kue yang mereka tawarkan tak
kalah nikmatnya dengan para pesaing di pasaran. Pun dengan harga yang relatif
mudah dijangkau bagi semua kalangan, pantas saja jika gerai mereka disetiap
kota selalu ramai diserbu pengunjung, bahkan ada yang rela antri berjam – jam
hanya untuk mencicipi jajanan khas yang baru saja berkembang ini.
Yang
menarik untuk didalami adalah bagaimana Jannah Corp menempatkan gerainya di
setiap kota yang mereka jajaki. Jannah Corp selalu menempatkan gerai mereka
persis ditengah kota, strategi ini sangat tepat untuk memuluskan penjualan
toko, karena tengah kota adalah pusat dari peradaban dan keramaian orang, cocok
dengan misi dari Jannah Corp yang menawarkan oleh – oleh khas daerah.
Jika
dikaitkan dengan teori Marketing Mix (4P : Product, Price, Place, Promotion), Jannah Corp telah memenuhi syarat untuk menjadi salah satu pegiat
usaha yang patut diperhitungkan bagi para pesaing sejenis di pasaran. Pasalnya,
dengan promosi yang kuat, bahkan dengan kelebihan kepopuleran para artis yang
mengampu merek dagang mereka, akan sangat baik jika promosi tersebut terus
menerus dilakukan, supaya semakin menanamkan gaung Jannah Corp dibenak
konsumen.
Namun, yang
perlu diperhatikan adalah rasa dari produk yang ditawarkan, mereka perlu
menjaga bahkan harus meningkatkan lagi rasa dari produknya, serta perlu adanya
inovasi agar konsumen tidak merasa bosan dengan produk Jannah Corp.
Penempatan
gerai dari Jannah Corp pun dirasa cukup baik, karena letaknya ditengah kota
mampu menjangkau banyak konsumen serta dapat menarik minat pengunjung yang tak
sengaja berkunjung dikota tersebut. Hanya saja perlu perluasan bisnis yang
lebih gencar lagi bagi Jannah Corp, agar gerai mereka mampu mencakup seluruh
wilayah Nusantara.
Harga yang
ditawarkan dari produk Jannah Corp sudah cukup memadai dan bersaing dipasaran,
karena dari harga yang tak telalu menguras kantong, konsumen sudah mendapat
panganan yang berkualitas tinggi.
Namun,
seperti halnya setiap bisnis pasti ada saja rintangan dan tentangan dari
berbagai pihak, salah satunya dari pegiat UMKM yang menjajakan oleh – oleh khas
daerah.
Pasalnya,
embel – embel nama kota di depan merek dagang mereka menimbulkan polemik, tentu
saja hal itu memberikan pandangan negatif dari para pegiat UMKM. Bandung,
Malang, Cirebon, Medan, Surabaya, Pekanbaru, serta nama kota – kota besar
lainnya, dijadikan nama depan merek dagang produk Jannah Corp, sebelum diakhiri
dengan nama khas dari masing – masing produk.
Dengan
pandangan seperti itu, produk Jannah Corp harusnya mempunyai ciri khas dari
nama kota yang mereka gunakan, namun nyatanya tidak. Hal tersebut tentu saja
membuat para pegiat UMKM yang menjual panganan oleh – oleh khas daerah
meradang, mereka merasa kue kekinian khas artis tanah air secara tidak langsung
mengurangi konsumen mereka yang umumnya mencari panganan khas daerah yang
dikunjungi, namun setelah adanya gerai kue kekinian banyak konsumen yang
beralih dari panganan khas daerah menjadi membeli kue modern itu.
Padahal
secara bentuk dan rasa kue tersebut tidak ada sama sekali ciri khas daerah dari
nama yang mereka dompleng, bahkan jika berbicara lebih pedas lagi, kue yang mereka
jajakan bukan panganan asli dari Indonesia, tapi dari luar negeri. Miris
memang.
Masalah ini
tentu akan mengurangi potensi UMKM daerah yang tengah giat merintis bisnis
mereka, bibit – bibit entrepreneur yang mulai tumbuh dengan menjual oleh – oleh
khas daerah mereka, bisa saja perlahan mati karena tergerus kepopuleran bisnis
kue kekinian.
Harusnya
bisnis ini jangan mematikan potensi pengusaha kecil, bahkan jika bisa Jannah
Corp bisa lebih merangkul mereka, dengan cara menampilkan ciri khas dari nama kota
yang mereka dompleng. Contohnya, jika dijual di Malang dan mendompleng nama
Malang, kue tersebut lebih baik menggunakan cita rasa khas daerah Malang, sebut
saja Apel Malang, jadi pengusaha apel akan ikut mencicipi kesuksesan kue
kekinian dan kue itu ada ciri khas dari kota Malang, serta tentu saja membantu
mengembangkan bisnis UMKM di Malang. Hal tersbut berlaku pula di daerah lain.
Dengan pemecahan masalah seperti itu, diharapkan semua
pihak mendapatkan keuntungan, Jannah Corp dapat mengembangkan bisnisnya dengan
lebih baik, serta pegiat UMKM penjaja oleh – oleh khas daerah tetap bisa
berkembang menjadi suatu unit yang lebih kuat, karena akan lebih banyak
penjualan yang mereka lakukan.Kutipan: https://www.brilio.net/selebritis/ternyata-ini-manajemen-yang-menaungi-bisnis-kue-kekinian-artis-170526u.html
Dapus : Kotler, Philip, and Kevin Lane Keller. "Manajemen Pemasaran (judul asli: Marketing Management), edisi ketiga belas, jilid 1." Penerjemah Bob Sabran. Jakarta: Erlangga (2009).







