Jangan pernah merasa tinggi, sebab yang begitu tinggi saja tak melangit, lalu kita apa? kita hanya seonggok daging yang bila saatnya nanti akan menjadi tanah jua

Saturday, 16 September 2017

Segmentasi, Targeting, dan Positioning Yakult

Jika kita berbicara tentang produk, maka kita sedang berbicara tentang banyak hal yang kompleks, produk akan berkaitan erat dengan produsen, survey pasar, bagaimana cara membuat produk tersebut, merancang merek, hingga proses pemasaran dari produk tersebut.

Pada proses pemasaran sebuah produk, tak hanya dengan bermodal promosi yang gencar. Promosi memang penting, namun banyak hal yang sebelumnya harus dilakukan sebelum sebuah produk benar - benar meluncur ke pasar.
sumber : arenakabar.com

Salah satu hal penting bagi perusahaan sebelum memasarkan produknya adalah proses Segmentasi, Targeting, dan Positioning atau lebih sering disingkat (STP) dari produk tersebut.

Hal yang sama berlaku juga bagi Yakult, produk minuman sehat asal Jepang. Di prakarsai oleh Dr. Minoru Shirota, penemu bakteri yang baik bagi usus sekaligus pendiri perusahaan Yakult. Kini produk yang memiliki slogan "Cintai ususmu, minum Yakult setiap hari" telah merambah ke berbagai pasar diseluruh dunia.

ssumber : yakult.co.in

Untuk itu, marilah kita menilik bagaimana proses Segmentasi, Targeting, dan Positioning dari Yakult, berikut ulasannya:

1. Segmentasi

Dapat diartikan sebagai tindakan membagi pasar menjadi kelompok - kelompok tertentu, baik itu dari segi, usia, geografi, gender dan sebagainya, sesuai dengan produk yang ditawarkan.
Dalam hal ini Yakult dapat diartikan tidak terlalu spesifik dalam menetapkan segmentasi pasarnya, artinya setiap kalangan baik itu anak kecil, remaja, dewasa, hingga orang tua sekalipun bisa mengonsumsi minuman ini.

2. Targeting

Proses targeting atau penentuan pasar sasaran merupakan tindakan lanjutnan perusahaan setelah penyegmentasian pasar, artinya kedua proses ini saling berhubungan. Pada proses ini, produsen mengevaluasi keaktifan daya tarik setiap segmen pasar dan memilih salah satu atau lebih segmen pasar yang ingin dimasuki.
Seperti diungkapkan sebelumnya bahwa produk Yakult adalah produk yang menargetkan pasar tak terdiferensiasi, artinya Yakult dapat memasuki setiap segmen pasar. Mungkin lebih tepatnya, yakult adalah minuman yang semua orang bisa menikmatinya.

3. Positoning

Yang terakhir adalah positioning atau penempatan produk. Dapat diartikan sebagai tindakan untuk memosisikan produk dibenak para konsumen, atau lebih jelasnya membuat konsumen mengingat produk kita jika kita menyebutkan hal yang berhubungan dengan produk tersebut.
Yakult memosisikan dirinya sebagai minuman sehat yang dapat dikonsumsi siapa saja, jadi jika ada yang menanyakan tentang minuman sehat, otomatis kita akan menjawab Yakult, Terlebih lagi slogan dari produk ini yang berbunyi "Cintai ususmu, minum Yakult setiap hari." yang semakin menegaskan bahwa produk Yakult adalah bagi keluarga yang menyukai gaya hidup sehat.

Sekian artikel ini, mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan atau kekurangan teori saat menjelaskan isi dari artikel. Semoga bermanfaat.
Share:

Sunday, 3 September 2017

Menilik Bisnis Kue Kekinian, Serta Potensi Rusaknya Pangsa Pasar UMKM Penjaja Oleh – Oleh Khas Daerah

Dewasa ini, bisnis kue kekinian artis tanah air yang ditujukan untuk oleh – oleh khas daerah kian menjamur dan semakin menjadi – jadi. Bisnis yang awalnya dijalankan oleh satu-dua orang artis saja, sekarang telah berkembang, bahkan seperti dilansir oleh brilio.net kini gerai kue kekinian khas daerah itu telah mencapai 10-an gerai yang tersebar di berbagai kota besar di nusantara.
            Lebih hebatnya lagi, bisnis tersebut sekarang telah bernaung pada satu manajerial, “Jannah Coorporate.” Di prakarsai oleh Irwansyah beserta sang istri Zaskia Sungkar, mereka kini menjalankan bisnisnya dengan lebih teratur karena semua merek yang mereka bawahi mempu berjalan serempak dengan sebuah kontrol yang baik.

            Bisnis ini sangat mengandalkan kepopuleran para artis yang membawahi sebuah merek yang dipegangnya, sebut saja Laudya Chintya Bella dengan “Bandung Makuta,” serta Indra Bekti dengan “Cirebon Sultana.” Untuk mendongkrak dagangan miliknya, mereka gancar melakukan promosi di sosial media, bahkan lebih ekstrim lagi, para artis ini menawarkan foto bersama bagi para pengunjung yang datang ke gerai dagangannya, tentu saja dengan catatan para artis tersebut tengah berada disana.
            Untuk urusan produk, bukan main – main, mereka menjajakan kue khas Austria yang menjadi pilihan menu dan dirasa pas untuk lidah nusantara, hanya saja perlu inovasi yang lebih lagi bagi Jannah Corp, karena hampir di setiap merek dagang miliknya, menyuguhkan kue yang hampir serupa, hanya mungkin toppingnya saja yang diubah – ubah.
            Dalam rasa, Jannah Corp rasanya perlu berpuas diri karena kue yang mereka tawarkan tak kalah nikmatnya dengan para pesaing di pasaran. Pun dengan harga yang relatif mudah dijangkau bagi semua kalangan, pantas saja jika gerai mereka disetiap kota selalu ramai diserbu pengunjung, bahkan ada yang rela antri berjam – jam hanya untuk mencicipi jajanan khas yang baru saja berkembang ini.
            Yang menarik untuk didalami adalah bagaimana Jannah Corp menempatkan gerainya di setiap kota yang mereka jajaki. Jannah Corp selalu menempatkan gerai mereka persis ditengah kota, strategi ini sangat tepat untuk memuluskan penjualan toko, karena tengah kota adalah pusat dari peradaban dan keramaian orang, cocok dengan misi dari Jannah Corp yang menawarkan oleh – oleh khas daerah.
            Jika dikaitkan dengan teori Marketing Mix (4P : Product, Price, Place, Promotion), Jannah Corp telah memenuhi syarat untuk menjadi salah satu pegiat usaha yang patut diperhitungkan bagi para pesaing sejenis di pasaran. Pasalnya, dengan promosi yang kuat, bahkan dengan kelebihan kepopuleran para artis yang mengampu merek dagang mereka, akan sangat baik jika promosi tersebut terus menerus dilakukan, supaya semakin menanamkan gaung Jannah Corp dibenak konsumen.
            Namun, yang perlu diperhatikan adalah rasa dari produk yang ditawarkan, mereka perlu menjaga bahkan harus meningkatkan lagi rasa dari produknya, serta perlu adanya inovasi agar konsumen tidak merasa bosan dengan produk Jannah Corp.
            Penempatan gerai dari Jannah Corp pun dirasa cukup baik, karena letaknya ditengah kota mampu menjangkau banyak konsumen serta dapat menarik minat pengunjung yang tak sengaja berkunjung dikota tersebut. Hanya saja perlu perluasan bisnis yang lebih gencar lagi bagi Jannah Corp, agar gerai mereka mampu mencakup seluruh wilayah Nusantara.
            Harga yang ditawarkan dari produk Jannah Corp sudah cukup memadai dan bersaing dipasaran, karena dari harga yang tak telalu menguras kantong, konsumen sudah mendapat panganan yang berkualitas tinggi.
            Namun, seperti halnya setiap bisnis pasti ada saja rintangan dan tentangan dari berbagai pihak, salah satunya dari pegiat UMKM yang menjajakan oleh – oleh khas daerah.
            Pasalnya, embel – embel nama kota di depan merek dagang mereka menimbulkan polemik, tentu saja hal itu memberikan pandangan negatif dari para pegiat UMKM. Bandung, Malang, Cirebon, Medan, Surabaya, Pekanbaru, serta nama kota – kota besar lainnya, dijadikan nama depan merek dagang produk Jannah Corp, sebelum diakhiri dengan nama khas dari masing – masing produk.

            Dengan pandangan seperti itu, produk Jannah Corp harusnya mempunyai ciri khas dari nama kota yang mereka gunakan, namun nyatanya tidak. Hal tersebut tentu saja membuat para pegiat UMKM yang menjual panganan oleh – oleh khas daerah meradang, mereka merasa kue kekinian khas artis tanah air secara tidak langsung mengurangi konsumen mereka yang umumnya mencari panganan khas daerah yang dikunjungi, namun setelah adanya gerai kue kekinian banyak konsumen yang beralih dari panganan khas daerah menjadi membeli kue modern itu.
            Padahal secara bentuk dan rasa kue tersebut tidak ada sama sekali ciri khas daerah dari nama yang mereka dompleng, bahkan jika berbicara lebih pedas lagi, kue yang mereka jajakan bukan panganan asli dari Indonesia, tapi dari luar negeri. Miris memang.
            Masalah ini tentu akan mengurangi potensi UMKM daerah yang tengah giat merintis bisnis mereka, bibit – bibit entrepreneur yang mulai tumbuh dengan menjual oleh – oleh khas daerah mereka, bisa saja perlahan mati karena tergerus kepopuleran bisnis kue kekinian.
            Harusnya bisnis ini jangan mematikan potensi pengusaha kecil, bahkan jika bisa Jannah Corp bisa lebih merangkul mereka, dengan cara menampilkan ciri khas dari nama kota yang mereka dompleng. Contohnya, jika dijual di Malang dan mendompleng nama Malang, kue tersebut lebih baik menggunakan cita rasa khas daerah Malang, sebut saja Apel Malang, jadi pengusaha apel akan ikut mencicipi kesuksesan kue kekinian dan kue itu ada ciri khas dari kota Malang, serta tentu saja membantu mengembangkan bisnis UMKM di Malang. Hal tersbut berlaku pula di daerah lain.
            Dengan pemecahan masalah seperti itu, diharapkan semua pihak mendapatkan keuntungan, Jannah Corp dapat mengembangkan bisnisnya dengan lebih baik, serta pegiat UMKM penjaja oleh – oleh khas daerah tetap bisa berkembang menjadi suatu unit yang lebih kuat, karena akan lebih banyak penjualan yang mereka lakukan.

Kutipan: https://www.brilio.net/selebritis/ternyata-ini-manajemen-yang-menaungi-bisnis-kue-kekinian-artis-170526u.html
Dapus : Kotler, Philip, and Kevin Lane Keller. "Manajemen Pemasaran (judul asli: Marketing Management), edisi ketiga belas, jilid 1." Penerjemah Bob Sabran. Jakarta: Erlangga (2009).
Share:

Advertisement

Recent Post

Recent Posts Widget

Blogroll

Flag Counter
Powered by Blogger.